Diafragma Horizon

Standar

Berkolaborasi dalam membuat puisi bukanlah hal mudah, namun bisa jadi asik.

horizon senja

Puisi ini dibuat pada suatu senja di sebuah teras rumah. Metta Destianita namanya. Teman sejak SMP yang acap saya mintai pertolongan dalam mengerjakan soal-soal Fisika kala itu. Maklum, otak saya beku tak seencer miliknya. Ia termasuk satu dari yang sedikit menyukai gaya penulisan saya, hingga sore itu ia mengajak berkolaborasi dalam menciptakan puisi.

Metodenya seperti ini: saya memulainya – tanpa judul. Menulis sebuah bait pada sebuah buku atau kertas. Selesai, saya berikan padanya, dan begitu seterusnya. Saya yang membuka, ia yang menutup. Jadi jika dipisahkan, inilah yang saya tulis:

ada ujung diafragma di suatu senja
yang tak melukiskan apa-apa

ada sepotong pelangi di ujung bukit
menggapainya hanya membuat engkau sakit

ya,
dan ada secarik kertas bertuliskan kisah
tertulis dengan tinta air mata
siapa juga yang mau membacanya?

diafragma yang tak melukiskan apa-apa
sepotong pelangi yang tak pernah menjadi nyata
ditambah secarik kertas yang tulisannya tak terbaca
tak lama lagi aku pun menjadi gila

Bisa jadi satu puisi sendiri ya? Hehe… Kemudian, inilah yang ia tuliskan:

diafragma horizon
oranye tapi kosong

ada banyak awan di langit
tidakkah sepotong terlalu sedikit

kertas kisah air mata itu
ada di situ
masih di situ
mungkin menunggu sesuatu?

horizon oranye yang kosong
apa itu yang banyak dan sepotong
hanya kertas kosong
mungkin ini hanya cerita sepotong

Tulisannya juga bisa menjadi puisi yang berdiri sendiri. Namun dapatkah Anda merasakan bahwa gaya penulisan kami mirip? Nah, inilah puisi kami jika disatukan:

ada ujung diafragma di suatu senja
yang tak melukiskan apa-apa

diafragma horizon
oranye tapi kosong

ada sepotong pelangi di ujung bukit
menggapainya hanya membuat engkau sakit

ada banyak awan di langit
tidakkah sepotong terlalu sedikit

ya,
dan ada secarik kertas bertuliskan kisah
tertulis dengan tinta air mata
siapa juga yang mau membacanya?

kertas kisah air mata itu
ada di situ
masih di situ
mungkin menunggu sesuatu?

diafragma yang tak melukiskan apa-apa
sepotong pelangi yang tak pernah menjadi nyata
ditambah secarik kertas yang tulisannya tak terbaca
tak lama lagi aku pun menjadi gila

horizon oranye yang kosong
apa itu yang banyak dan sepotong
hanya kertas kosong
mungkin ini hanya cerita sepotong

Tangerang, 16.05.2010
Rateka Lee dan Metta Destianita

Bagaimana menurut Anda karya kami di atas?

Iklan

Teratai Surga

Standar

Melanjutkan arikel puisi Yojana yang merupakan “hadiah” kepada seseorang di masa lalu saya, puisi berikutnya masih berasal dari folder di harddisk yang sama.

teratai surga

Namun kali ini, saya tidak lupa untuk siapa puisi ini saya berikan. Metode penulisannya sama, menggunakan nama mereka sebagai huruf pembuka tiap-tiap baitnya. Dia adalah teman lama, kenal di Friendster (ya, Anda tak salah baca!) tak lama setelah tsunami Aceh melanda. Asalnya dari Aceh-lah yang membuat saya tertarik mengenalnya. Saat puisi ini saya tulis, ia sedang kuliah di Malang.

Dan seperti sebelumnya, puisi ini tak berjudul. Mengapa? Karena huruf depan yang merangkai sebuah nama tersebut saya rasa sudah cukup mewakili. Namun, itu dulu. Untuk judul artikel di atas, saya kutip dari dua bait terakhir yang membuat penutupnya begitu indah – itulah yang saya pikirkan saat membacanya kembali lebih dari 8 tahun kemudian. Berikut puisinya:

ingin bertutur dan bertatap
namun sepertinya bukan saat ini
enggan ketika kamu menyapa ia tak ada
seharusnya saja..

fasenya belum tiba, mungkin
antara rasa dan percaya di tengah kesahnya angkara
runyam, kelam, makanlah hingga kenyang!
angkuhnya patih bertopeng durja karena
harapan yang sirna seketika

dengarlah, aku ingin berkata bahwa kamu itu begitu
indah..
teratai surga dengan semerbak yang begitu memesona
aku ingin memetikmu, namun aku tahu aku akan tenggelam…

Karawaci, 13 Mei 2007

Ya, seperti Anda ketahui, teratai tumbuh di atas air. Dua bait yang begitu saya suka, karena dalam mengatakan “aku tidak akan mampu menjadikanmu milikku” analogi yang saya gunakan saat itu adalah bunga, yang dapat membuat saya tenggelam jika berani coba-coba “memetiknya”. Dan hingga saat ini, saya memang hanya dapat mengagumi keindahannya dari jauh.

Keindahan teratai surga.

Yojana.. yojana..

Standar

Pernahkah Anda memberikan hadiah kepada seseorang di masa lalu, sesuatu yang spesial, dan kini benar-benar tak dapat mengingat siapa orang tersebut?

Saya senang menulis, dan blog ini akan menjadi – setidaknya – ajang saya untuk memublikasikan tulisan-tulisan pribadi saya di masa lalu. Masa lalu? Ya, saat periode remaja hingga menginjak dewasa. Karena setelah itu, saya benar-benar menjadi seorang penulis sebagai pekerjaan dan anehnya, setelah rutin menulis artikel, saya tak lagi mampu mengalirkan imajinasi saya dalam rupa puisi, sajak, atau karya sastra sejenis.

Puisi ini sejatinya tidak memiliki judul. Dalam harddisk saya berada di dalam folder “hadiah ulang tahun”. Ya, saat itu saya senang memberikan puisi untuk orang-orang spesial di sekitar saya. Eh, tidak juga sih. Di folder itu hanya ada dua puisi untuk dua orang berbeda. Uniknya, satu puisi ini, sama sekali tak ingat untuk siapa saya buat. Zaman sudah canggih, namun dukun sekelas Google pun tak berhasil menemukan jejaknya.

Sekali lagi, puisi ini tidak berjudul. Tertulis begitu saja seperti ini:

syahdan merupakan penantian
harapan atas
enggannya seribu mawar mekar dengan kelakar
lenyap..
lindang
yojana.. yojana..
 
aku mengerti hanya sebatas ini
lalu?
mengapa harus ada kata tanya?
ada kata cinta?
serapah, kamu itu begitu indah
yojana.. yojana
aku menyampaikan ini untukmu..  di hari lahirmu.. hanya untukmu
Karawaci, 24 Mei 2007

Yojana? Apa yojana? Bahkan saya tidak menyangka saya menggunakan istilah itu! Kata Wikipedia, yojana yang berasal dari bahasa Sanksekerta tersebut adalah satuan pengukuran yang jamak dipakai di India ~ namun bukan di sini. Satu yojana kira-kira panjangnya 15 kilometer. Jadi, hmm…

Mungkin saja, saya menggunakannya hanya untuk mengisi “kuota ‘y’” di dalam puisi tersebut. Ya seperti mungkin langsung Anda sadari bahwa, semua huruf depan puisi tersebut membentuk sebuah nama. Namun sekali lagi, saya tak dapat mengingatnya, atau menemukan keberadaannya di dunia maya. Nama yang indah, puisi yang indah, dan memori yang mungkin indah. Entahlah.

Yang saya tahu, saya bukan tipe penulis yang asal menuliskan istilah. Yojana “mesti” punya makna. Jika saat ini saya analisa, penggunaan yojana dalam puisi tersebut – yang disebutkan hingga dua kali – adalah semcam penggambaran bahwa dia, Shelly Almasya, adalah seseorang yang “tak tergapai”. Menunjukkan jarak kami yang jauh, entah secara fisik, atau secara “pengharapan saya kepada dirinya”. Mengerti kan maksud saya? Hehehe…

Yojana…yojana!